Selamat Datang di Blogger "SASTRALISAN" Semoga Bermanfaat

Senin, 12 November 2012

ANALISIS CERITA RAKYAT


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 

Cerita rakyat merupakan prosa lama berupa tradisi lisan. Dalam bahasa sehari-hari cerita rakyat lebih dikenal masyarakat sebagai dongeng. Dongeng ini, hidupa dan berkembang dalam masyarakat tertentu, tetapi tidak pernah diketahui siapa pengarangnya. Sebagai genre sastra lisan, cerita rakyat memiliki manfaat yang banyak bagi masyarakat pendukungnya. Di dalamnya terkandung nilai-nilai pendidikan maupun nilai-nilai moral yang bermanfaat.
Cerita rakyat merupakan suatu cerita fantasi yang kejadian-kejadiaanya tidak benar-benar terjadi. Cerita rakyat disajikan dengan  cara berutur lisan oleh tukang cerita. Goldman menyatakan bahwa karya sastra yang juga termasuk sastra lisan, merupakan struktur yang lahir dari proses sejarah yang terus berlangsung yang hidup dan dihayati masyarakat asal karya sastra itu lahir (Faruk, 1999:12). Sejalan dengan itu Mattaliji mengemukakan bahwa sastra lisan mempunyai hubungan erat dengan masyarakat tempat sastra lisan itu berada, baik dalam hubungannya dengan masyarakat di masa lalu, masa sekarang, maupun masa yang akan dating (Larupa, dkk. 2002:1).
Dalam kehidupan anak-anak, cerita rakyat sering kali menjadi kisah yang sangat menarik bagi sang anak  sehingga menjadi senjata paling ampuh bagi sang ibu untuk menidurkan anaknya. Tanpa disadari, sebenarnya cerita rakyat yang didengar secara tidak langsung akan membentuk sikap dan moral sang anak. Ajaran atau kandungan moral dalam cerita rakyat,  akan membentuk sang anak manjadi patuh terhadap kedua orang tuanya. Anak-anak akan merasa takut menjadi durhaka karena teringat hukuman atau balasan yang diterima sang anak dalam cerita-cerita jika durhaka terhadap orang tuanya. Dengan demikian cerita rakyat tidak hanya sebagai cerita pengantar tidur akan tetapi dapat membentuk moral anak-anak.
Dewasa kini budaya lokal yang menjadi ciri khas dan jiwa bangsa semakin terkikis oleh budaya asing. Hal ini terjadi karena arus globalisasi yang melibatkan negara-negara di dunia menjadi begitu mudahnya budaya-budaya asing masuk dan dan berbaur dengan budaya lokal yang secara langsung dapat mempengaruhi tatanan budaya bangsa. Demikian halnya cerita rakyat seakan-akan terlupakan dan enggan dikaji.
Di dalam perkembangan  zaman dan teknologi sekarang ini, bertambahnya pengetahuan dan berubahnya gaya hidup  masyarakat berpengaruh pada sastra dunia. Banyak bermunculan sastra-sastra modern dengan asas kebebasan yang sering kali mengabaikan jati diri bangsa. Bersamaan itu pula folklore dalam hal ini cerita rakyat semakin ditinggalkan dan dilupakan oleh masyarakat. Cerita rakyat sebagai salah satu hiburan dalam masyarakat tampaknya tenggelam oleh cerita sinetron dan sejenisnya yang disuguhkan di televise. Salah satu alasannya karena sinetron lebih nyata alurnya sehingga mudah dipahami dan dinikmati. Padahal cerita rakyat merupakan tradisi budaya yang memegang nilai-nilai luhur. Di dalamnya terdapat ajaran moral yang bermanfaat bagi generasi penerus untuk menjaga sifat-sifat budaya bangsa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kebudayaan daerah dalam pembangunannya di sektor kebudayaan mempunyai peranan yang penting untuk memperkaya kebudayaan nasional. Cerita rakyat merupakan salah satu aset dalam khasanah kebudayaan nasional yang menjadi kebanggaan  bangsa dengan budayanya yang beraneka ragam. 
Secara spesifik cerita rakyat Tula-tula Saidhi Rabba sebagai cerita rakyat masyarakat Muna, merupakan gambaran jelas tentang masyarakat, yaitu sistem nilai dan sistem budaya yang ada pada masyarakat sebelumnya yang kini masih berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Muna. Di dalamnya terdapat nilai-nilai yang bermanfaat bagi masyarakat Muna, yakni cerminan perilaku dan pandangan hidup yang baik dan patut untuk digali.
Dari uraian di atas semakin mendorong penulis untuk melakukan pengkajian secara ilmiah terhadap Tula-tula Saidhi Rabba, dengan mengungkapkan nilai-nilai kehidupan yang terdapat dalam cerita tersebut sebagai nilai yang bermanfaat bagi masyarakat Muna. Hasil kajian ini diharapkan dapat meningkatkan rasa kecintaan  kita terhadap budaya lokal sekaligus menjaga sastra daerah dari kepunahan. 

1.1 Masalah  

Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam kajian ini adalah “Bagaimana nilai kehidupan dalam cerita rakyat Tula-tula Saidhi Rabba?

1.2 Tujuan 

Tujuan dari tulisan ini adalah mendeskripsikan nilai-nilai kehidupan dalam cerita rakyat Tula-tula Saidhi Rabba.

1.3 Manfaat

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
a. Penulis dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat Tula-tula Saidhi Rabba.
b. Penulis dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat Tula-tula Saidhi Rabba.
1.4 Ruang Lingkup

Penulisan makalah ini  membahas cerita rakyat tula-tula Saidhi Rabba yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Muna dengan mengungkapkan nilai keagamaan, nilai sosial, dan nilai moral yang terdapat dalam cerita.


BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Nilai

Kandungan nilai suatu karya sastra lama adalah unsur esensial dalam karya sastra itu secara keseluruhan. Pengungkapan nilai-nilai dalam karya sastra, bukan saja memberikan pemahaman tentang latar belakang sosial budaya si pencerita, akan tetapi mengandung gagasan-gagasan dalam menanggapi situasi yang terjadi dalam masyarakat tempat karya sastra itu lahir. Hal ini seperti yang diungkapkan Supardi Joko Damono, bahwa sastra mencerminkan norma, yakni ukuran perilaku yang oleh anggota masyarakat diterima sebagai cara yang benar untuk bertindak dan menyimpulkan sesuatu. Sastra juga mencerminkan nilai-nilai yang  secara sadar diformulasikan dan diusahakan oleh warganya dalam masyarakat (Yunus, dkk., 1990:104)
Sehubungan dengan konsep nilai, Purwadarminta menjelaskan bahwa nilai adalah kadar isi yang memiliki sifat-sifat atau hal-hal penting yang berguna bagi kemanusiaan (Yunus, dkk., 1990:104). Nilai adalah sesuatu yang penting atau hal-hal yang bermanfaat bagi manusia atau kemanusiaan yang menjadi sumber ukuran dalam sebuah karya sastra. Nilai adalah ide-ide yang menggambarkan serta membentuk suatu cara dalam sistem masyarakat sosial yang merupakan rantai penghubung secara terus-menerus dari kehidupan generasi terdahulu.
Secara umum karya sastra mengungkapkan sisi kehidupan manusia dengan segala macam perilakunya dalam bermasyarakat. Kehidupan tersebut diungkapkan dengan menggambarkan nilai-nilai terhadap perilaku manusia dalam sebuah karya. Olehnya itu, sebuah karya sastra selain sebagai pengungkapan estetikan, di sisi lain juga berusaha memberi nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan.

Penjabaran nilai dalam karya sastra oleh banyak ahli sangatlah beragam. Mengenai hal itu, Wahid mengemukakan bahwa seorang penulis tidak mengkin mengelakkan diri dari pengunaan beberapa ide tentang nilai ( Wahid, 2005:35). Sehubungan dengan pengelompokan nilai, Najib menjelaskan bahwa secara garis besar nilai-nilai kehidupan yang ada dalam karya sastra terdiri atas tiga golongan besar yaitu (1) nilai keagamaan, (2) nilai social (3) nilai moral. Selanjutnya, nilai-nilai tersebut masih dapat dikelompokan dalam bentuk yang kecil, yaitu nilai agama terdiri atas nilai tauhid, nilai pengetahuan, nilai penyerahan diri kepada takdir. Nilai sosial terdiri atas nilai gotong-royong, musyawarah, kepatuhan, kesetiaan dan keikhlasan. Dan nilai moral terdiri atas nilai kejujuran, nilai kesopanan, ketabahan, dan menuntut malu atau harga diri (Zahafudin, 1996:22).

2.1.1 Nilai Keagamaan

Sastra dengan agama mempunyai hubungan yang sangat erat. Banyak karya sastra menjadi jalan atau sarana penyampaian nilai-nilai keagamaan. Dalam pembicaraan mengenai hubungan sastra dan agama, Mangun Wijaya lebih cenderung mengunakan istilah religius dan religiusitas daripada istilah agama dan religi. Agama lebih menitiberatkan pada kelembagaan yang mengatur tata cara penyembahan manusia kepada penciptanya, sedangkan religiusitas lebih menekankan kualitas manusia beragama (Yunus, dkk,.1990:106)
Sehubungan dengan fungsi sastra dengan pengungkapan nilai keagamaan. Mural Esten berpendapat bahwa ada tiga corak yang dapat kita lihat dalam sastra dalam hubungannya dengan keagamaan, yakni mempersoalkan praktek ajaran agama,   sastra mencipta dan mengungkapkan masalah tertentu berdasarkan ajaran-ajaran agama dan kehidupan agama hanya sebagai latar belakangnya (Yunus, dkk., 1990:106)
Bertolak dari uraian  yang dikemukakan diatas, yang dimaksud dengan nilai keagamaan dalam pembahasan ini adalah konsep tentang penghargaan tertinggi yang dilaksanakan atau yang diberikan masyarakat kepada yang bersifat suci yang menjadi pedoman bagi tingkah laku keagamaan warga masyarakat yang bersangkutan.

2.1.2 Nilai Sosial

Manusia adalah mahluk sosial. Sebagai mahluk social, manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa bantuan dan dukungan dari orang lain. Dalam memenuhi kebutuhannya, manusia senantiasa berinteraksi dan bekerja sama dengan manusia lainnya dalam berbagai aktifitasnya. 
Nilai sosial adalah sosial budaya yang menjadi ukuran  atau penilaian pantas atau tidaknya suatu keinginan dan kebutuhan dilakukan. Nilai ini memperlihatkan sejauh mana seseorang individu dalam masyarakat mengikat diri dalam kelompoknya. Satu individu selalu berhubungan dengan individu lain sebagai anggota masyarakat (Yunus, dkk., 1990:114)

2.2.3 Nilai Moral

Moral membahas tentang ajaran baik buruknya suatu perbuatan atau kelakuan manusia terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang lain. Dengan demikian nilai moral menyangkut nilai hubungan manusia dengan manusia dan nilai hubungan manusia  dengan dirinya sendiri.
Nilai moral adalah nilai kesusilaan yang dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan salah. Dalam hal ini mengenai sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti, dan susila (Purna, 1993:4) 

2.2 Pengertian Cerita Rakyat

Cerita rakyat adalah cerita yang hidup ditengah-tengah masyarakat dan berkembang dari mulut ke mulut. Dalam folklore, cerita rakyat merupakan bentuk folklor lisan yaitu cerita yang disampaikan secara lisan oleh pencerita. Wirjosudarmo (Isnan, 2003:11) mengatakan bahwa cerita pelipur lara adalah cerita yang member hiburan kepada orang yang mendengarkan dan diungkapkan oleh ahli cerita yang disebut pelipur lara.

2.3 Ciri-Ciri Cerita Rakyat
Ciri-ciri cerita rakyat antara lain :
a).  Disampaikan secara lisan. Salah satu sifat cerita rakyat yang utama terletak pada cara penyampaianya. Pada lazimnya cerita rakyat disampaikan melalui tuturan. Ia dituturkan secara individu kepada seorang individu atau sekelompok individu.
b). Sering kali mengalami perubahan. Cerita rakyat merupakan suatu yang dinamik, dimana ia akan mengalami perubahan seperti penambahan atau pengurangan, menurut peredaraan waktu. Oleh karena itu, kita menjumpai berbagai variasi untuk cerita rakyat di tempat yang berlainan.
c).  Merupakan kepunyaan bersama. Soal hak cipta tidak ada pada  cerita rakyat. Tak seorang pun yang mengaku sebagai pengarang cerita rakyat tertentu sehingga cerita rakyat bersifat anomim.
d). Sering memiliki unsur irama. Cerita pelipur lara senantiasa disampaiakan pencerita senantiasa mengandung unsur irama yang menarik. Pengaturan ini agar cerita lebih menghibur juga untuk memudahkan penceritaanya.

2.4 Jenis-jenis cerita rakyat
2.4.1 Legenda
      Legenda adalah cerita yang dipercaya oleh beberapa penduduk setempat benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci atau sakral yang membedakanya dengan mitos. Menurut WR. Bascom legenda adalah cerita yang mempunyai cirri-ciri mirip dengan mite yakni dianggap benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci.

       Legenda sering memiliki keterkaitan dengan sejarah dan kurang keterkaitan dengan masala supranatural. Legenda dapat dipahami sebagai cerita magis yang sering dikaitkan dengan seorang,  tokoh, peristiwa, dan tempat-tempat nyata, Michael (Nurgiantoro, 2005:182).
2.4.2 Mite
Istilah mite atau mitos dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani “mythos” yang berasal dari cerita dewata.  Mitos merupakan cerita masa lampau yang dimiliki bangsa-bangsa di dunia. Menurut Bascom (Atmiawati, 2010:12) berpendapat bahwa mitos merupakan prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang punya cerita.

Mitos adalah cerita yang berkaitan dengan dewa-dewa atau yang berkaitan dengan supranatural yang lain, juga sering mengandung pendewaan manusia atau manusia keturunan dewa, Nurgiyantoro (2005:24).
2.4.3 Dongeng

        Dongeng pada dasarnya merupakan karya prosa rakyat yang dihasilkan oleh masyarakat yang di dalam penuh dengan hal-hal yang brupa khayalan dan diliputi unsure-unsur keajaiban. Nurgiantoro (2002:18) memberi batasan bahwa dongeng adlah cerita rekaan yang penuh dengan fantasi, sukar diterima dengan logika pikiran kita sekarang atau dengan kata lain merupakan cerita yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama. Jadi dongeng merupakan cerita prosa rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi, Ia diceritakan sebagai hiburan, berisikan ajaran moral bahkan sindiran.
2.4.4 Cerita Wayang
Wayang adalah sebuah wiracerita yang berpakem pada dua karya besar, yakni Ramayana dan Mahabrata. Cerita wayang dan pewayangan sebagaimana yang dikenal orang dewasa ini merupakan warisan budaya nenek moyang yang telah bereksistensi sejak jaman prasejarah. Wayang telah melewati berbagai peristiwa sejarah dari generasi ke generasi sebagai milik bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa.

2.5 Fungsi Cerita Rakyat

Menurut Bascom (Sikki, dkk. 1985:13) mengemukakan fungsi cerita rakyat pada umumnya sebagai berikut :
1. Cerita rakyat mencerminkan angan-angan kolompok. Peristiwa yang diungkap oleh cerita rakyat tidak benar-benar terjadi dalam kenyataan sehari-hari, tetapi merupakan proyeksi dari angan-angan atau impian rakyat jelata.
2. Cerita rakyat digunakan untuk mengesahkan dan menguatkan suatu adat kebiasaan pranata-pranata yang merupakan lembaga kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.
3. Cerita rakyat dapat berfungsi sebagai lembaga pendidikan budi pekerti kepada anak-anak atau tuntutan dalam hidup.
4. Cerita rakyat berfungsi sebagai pengendalian sosial atau alat pengawasan, agar norma-norma masyarakat dapat dipenuhi.
Jadi cerita rakyat selain berfungsi sebagai bagian dari sejarah, juga berfungsi menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan religius terhadap masyarakat, generasi-generasi penerusnya dimana tempat cerita itu tumbuh dan berkembang.



BAB III

ANALISIS DAN PEMBAHASAN


3.1 Analisis Data
Dalam analisis makalah ini mengunakan pendekatan hermeneutik. Pendekatan hermeneutik ini lebih cenderung atau diartikan sebagai upaya interpretasi makna dalam cerita dengan penafsiran-penafsiran yang tepat terhadap fenomena yang terjadi dalam cerita (Endraswara, 2009:151).
Selanjutnya untuk mengklasifikasi bagian-bagian cerita yang mengandung nilai kehidupan dengan interpretasi dan penafsiran yang sesuai.
3.2 Pembahasan
Penjabaran nilai dalam karya sastra oleh banyak ahli sangat beragam. Mengenai hal itu, Wahid mengemukakan bahwa seorang penulis tidak mengkin mengelakkan diri dari pengunaan beberapa ide tentang nilai ( Wahid, 2005:35). Sehubungan dengan pengelompokan nilai, Najib menjelaskan bahwa secara garis besar nilai-nilai kehidupan yang ada dalam karya sastra terdiri atas tiga golongan besar yaitu (1) nilai keagamaan, (2) nilai social (3) nilai moral (Zahafudin, 1996:22).
Berdasarkan hasil analisis, pemaparan nilai-nilai cerita rakyat tula-tula Saidhi Rabba dapat dijabarkan sebagai berikut :
 3.3 Nilai Keagamaan
Nilai keagamaan yang dimaksudkan adalah aspek yang berhubungan dengan yang supranatural yang menyangkut hubungan manusia dengan sang penciptanya.
  Pada pembahasan ini, keagamaan lebih dimaksudkan dengan konsep religi. Unger mengemukakan bahwa religi atau religuitas menyangkut masalah keagamaan, masalah alam, mitos dan ilmu gaib (Wellek dan Warren, 1995:141-142)
Emosi keagamaan menjadikan manusia menjadi religius, yaitu suatu keyakinan tentang sifat-sifat ketuhanan, tentang wujud alam gaib, serta segala nilai dan ajaran dari religi yang bersangkutan.
3.3.1 Nilai keagamaan dalam cerita rakyat Tula-tula Saidhi Rabba
Agama merupakan wadah yang komplit dalam meningkatkan iman dan takwa manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia di hadapan Tuhan adalah sama, yang membedakannya adalah tingkat keimanan dan ketakwaanya terhada Tuhan. Iman yang kuat menjadikan manusia mampu mengendalikan diri dari masalah-masalah. Tuntunan keimanan dan ketakwan itu menjadikan manusia mengabdikan dirinya terhadap agama yang diyakininya. Cara itu akan mempertebal keimanan seseorang dalam mendekatkan diri pada sang pencipta. 
Perhatikaan kutipan berikut :
“Nenaghamo bha-bhano dhalano kaislamu we wuna ini. Nofoguruandamo kaislamu miehino aghontoghe ini, nofoguruanda alahano aondo bhe alano wakutu. Dopokapo-kapoimo dua maanano mieno liwu mbali defoere masigi so kasambaheaha liwu”
“Di tempat itulah kemudian Saidhi Rabba pertama mengenalkan dan mengajarkan agama Islam di Muna. Beliau mengajarkan sholat dan mengajarkan tentang islam. Bersama warga, Saidhi Rabba kemudian membangun masjid untuk sholat berjamaah”
Kutipan di atas mencermikan nilai keagamaan yang dilakukan oleh Saidhi Rabba dengan menyiarkan dan mengajarkan ajaran Islam pada masyarakat. Tidak sembarang orang percaya dan mampu melakukan tugas besar, dalam hal ini menyiarkan ajaran agama yang suci. Hanya orang-orang tertentu saja yang memang menjadi pilihan dan mempunyai kemampuan yang dapat dipertanggungjawabkan, baik kepada manusia maupun kepada Tuhannya.
Nilai lain yang diungkapkan dalam cerita di atas adalah sholat. Sholat (lima waktu) dalam Islam hukumnya adalah wajib sehingga jika ia lalai tidak mengerjakannya maka ia berdosa. Al Quran mengatakan bahwa sholat adalah tiang agama. Dapat dibayangkan jika sebuah rumah tanpa tiang, bangunannya akan mudah roboh. Oleh karena itu sholat sangat penting ditegakan demi keyakinan terhadap sang pencipta. 
Manusia dalam hidupnya selalu diberi cobaan dan ujian dari Tuhannya. Barangkali itulah yang dilakukan Tuhan untuk menguji  umatnya, sejauhnya keimanan mereka terhadap-Nya. Manusia yang beriman menjadikan cobaan sebagi cambuk untuk mempertebal iman. Sebaliknya orang yang lemah akan menjadikan cobaan sebagai penyakit yang semakin menjauhkandirinya  kepada Tuhan.
Berbagai cobaan yang diberikan kepada manusia. Salah satu cara yang tepat untuk menghadapinya adalah dengan berdoa/. Hal itu karena doa bersifat sakral dan  berhubungan langsung dengan Tuhannya. Dalam cerita rakyat Saidi Rabba digambarkan seperti pada kutipan berikut:
“Dahni wakutu notafakuru nebasa dhoa nagha Saidi Rabba inia, notontoe Sangia Latugho nopoangka noturu luuno matano Saidi Rabba ini, ne suanano.”
“Pada saat saidi Rabba ini tafakur membaca doa, Sangia menatap dan melihat air mata Saidi Rabba menetes di mata kanannya sebanyak dua tetes berurutan.”
Saidi Rabba ketika berkunjung ke Kamali mendapata sebuah kenyataan bahwa ternyata keluarga Sangia tidak mempunyi keturunan. Sehingga pada kutipan di atas, Saidi Rabba berdoa kepada Allah SWT agar Sangia dan istrinya mendapatkan keturunan. Doa tersebut bernilai keagamaan. Doa adalah seperti sebuah kekuatan gaib yang memungkinkan manusia mengharap sesuatu di luar kemampuannya. Hanya berdoalah yang bisa dilakukan manusia ketika dia tidak berdaya terhadap kehendak Tuhan. 
Kutipan di atas mengungkapkan sebuah nilai, tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan. Apa yang dikehendakinya serta merta akan terjadi. Apa yang tidak mungkin bagi manusia, menjadi mungkin bagi tuhan. Ujian dan cobaan yang dilimpahkan kepada manusia, barangkali Tuhan hanya ingin melihat dan menguji sejauh mana kesabaran manusia lewat ujian-ujian atau masalah-masalah, atau Tuhan hanya ingin kita menyembah dan menyebut nama-Nya. Untuk itu manusia hendaknya senantiasa mendekatkan diri pada Tuhan. Memohon pertolongan dan berdoa kepada Tuhan dalam setiap aktifitasnya.
3.4 Nilai Sosial
Nilai sosial yang dimaksud adalah aspek yang menyangkut hubungan menusia dengan manusia, baik secara langsung maupun dalam bentuk kelembagaan seperti keluarga dan masyarakat. Najib mengemukakan, yang termasuk dalam nilai sosial yaitu gotong-royong, kepatuhan, kesetiaan, dan keikhlasan (Zahafudin, 1996:22)
3.4.1 Nilai Sosial dalam Cerita Rakyat Tula-tula Saidi Rabba
Nilai sosial dalam cerita rakyat tula-tula Saidi Rabba digambarkan seperti kutipan berikut :
“Dhadi welo kaereno nagha Saidi Rabba inia nope we napano Walingkabhola, we napano Laghontoghe, welokomotugha we liwu ngkodau. Nofoguruandamu kaislamu miehino aghontoghe ini, nofoguruanda alahano oendo bhe alahano wakutuu. Dopokapo-kapoimo dua maanamo meino liwu mbali defoere maasigi so kasambaheaha liwu.”
“Dalam perjalanan tersebut, sampailah Saidi Rabba di suatu tempat di Muna. Dekat pantai Langhontoghe, (sekarang Walengkabhola) yang lebih dikenal dengan nama Kampung Lama. Di tempat inilah kemudian Saidi Rabba pertama mengenalkan Islam di Muna. Beliau mengislamkan warga, mengajari mereka tentang Islam dan sebagainya tentang Islam. Bersama warga kemudian membangun mesjid untuk sholat berjamaah.”
Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia dituntut memiliki kemampuan bersosialisasi dengan manusi lainnya. Kemampuan sosialisasi ini memungkinkan kita dapat diterima dan hidup bersama-sama dalam masyarakaat serta berinteraksi dengan anggota masyarakat lainnya. 
Saidi Rabba dalam kutipan cerita di atas dapat dikatakan mempunyai kemampuan sosialisasi tersebut. Dalam cerita, Saidi Rabba dengan kemampuan sosialisasinya, diterima di tengah-tengah masyarakat Kampung Lama di Laghontoghe sehingga dengan leluasa menjalankan ajaran agama Islam yang dibawanya. Dengan kemampuannya itu pula, Saidi Rabba menanamkan sebuah aktifitas sosial dengan mengajak warga bekerja sama membangun mesjid untuk sholat berjamaah. Aktifitas sosial lainya yang berhubungan dengan kerja sama, juga tampak pada kutipan berikut:
“Dhadi nofoguruandamu dua kaislamu Saidi Rabba ini te Wuna. Nofoguruandamu ngaji mananoa, bhari-bharie dhalano islamu nofoguruanda. Defoeremo masigi te wuna maitu.”  
“Maka ketika itu, menjadi mudahlah Saidi Rabba mengajarkan Islam di Muna. Diajarnya warga mengaji, sholat, dan semua ajaran yang berhubungan dengan islam. Dibangunnyalah mesjid di Muna sebagai tempat sholat berjamaah.”
Setelah mengajarkan Islam di Kampung Lama atau Laghontoghe, dengan kemampuan sosialisasinya, selanjutnya Saidi Rabba juga diterima oleh masyarakat Kamali di Muna untuk menyiarkan ajaran agama Islam. Kemudian bersama warga jug membangun mesjid untuk sholat berjamaah.
Aktifitas sosial lainya tidak hanya  terjadi dalam kehidupan masyarakat, tetapi dapat pula terjadi antar individu dalam masyarakat. Seorang individu dalam interaksinya dengan individu lainnya dan terlibat kerja sama di dalamnya, atau terjadi aktifitas tolong-menolong dengan individu lain, juga dapat dikatakan sebagai aktifitas sosial. Hal ini karena aktifitas sosial menyangkut kepedulian antar  sesame manusia.
3.5 Nilai Moral
Moral, membahas tentang ajaran baik buruknya suatu perbuatan atau kelakuan manusia terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang lain. Dengan demikian nilai moral menyangkut nilai hubungan manusia dengan manusia dan nilai hubungan manusia  dengan dirinya sendiri.
Nilai moral adalah nilai kesusilaan yang dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan salah. Dalam hal ini mengenai sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti, dan susila (Purna, 1993:4).

3.5.1 Nilai Moral dalam Cerita Rakyat Tula-tula Saidi Rabba 

Pada dasarnya agama menjadikan manusia menjadi lebih baik. Seseorang yang memiliki tingkat pemahaman yang tinggi terhadap ajaran agama akan menjadikan seseorang tersebut mencermikan sikap dan perilaku yang baik. Sikap dan perilaku yang baik dalam masyarakat itu pula mencerminkan bahwa seseorang memiliki moral yang baik. 
Sikap dan perilaku yang baik yang mengambarkan  nilai moral dalam cerita rakyat Tula-tula Saidi Rabba dapat ditunjukan pada kutipan berikut: 
“Dhadi welo kaereno nagha Saidi Rabba inia nope we napano Walingkabhola, we napano Laghontoghe, welokomotugha we liwu ngkodau. Nofoguruandamu kaislamu miehino aghontoghe ini, nofoguruanda alahano oendo bhe alahano wakutuu. Dopokapo-kapoimo dua maanamo meino liwu mbali defoere maasigi so kasambaheaha liwu.”
“Dalam perjalanan tersebut, sampailah Saidi Rabba di suatu tempat di Muna. Dekat pantai Langhontoghe, (sekarang Walengkabhola) yang lebih dikenal dengan nama Kampung Lama. Di tempat inilah kemudian Saidi Rabba pertama mengenalkan Islam di Muna. Beliau mengislamkan warga, mengajari mereka tentang Islam dan sebagainya tentang Islam. Bersama warga kemudian membangun mesjid untuk sholat berjamaah.”
Pada dasarnya kegiatan mengajar merupakan proses yang membut seseorang menjadi terdidik, dalam arti orang yang tidak tahu menjadi tahu. Mengajar yang baik adalah sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain dan masyarakat.
Pada kutipan di atas, Saidi Rabba sebagai utusan dari Arab untuk membawa ajaran Islam di Muna melakukan misi tersebut dengan baik. Dengan sikap dan perilaku yang baik, Saidi Rabba dapat diterima oleh masyarakat bahwa ajaran agama yang dibawanya pun diterima baik oleh masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari buah sikap dan perilaku yang baik dari Saidi Rabba.




BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Dari hasi analisis cerita rakyat Tula-tula Saidi Raba dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa cerita rakyat tersebut banyak mengandung pesan-pesan atau nilai-nilai kehidupan yang bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya dan bagi masyarakat Muna pada khususnya. Nilai-nilai kehidupan tersebut adalah nilai keagamaan, nilai sosial, dan nilai moral. Nilai keagamaan yang ditemukan menyangkut kegiatan mengajarkan agama, kegiatan berdoa, dan kepercayaan terhadap hal-hal yang gaib. Nilai sosial menyangkut kegiatan saling membantu atau saling tolong-menolong dalam masyarakat dan musyawarah. Nilai moral yang ditemukan menyangkut sikap dan perilaku yang baik dari tokoh cerita.
4.2 Saran

Perlu adanya upaya dari pemerintah dan juga masyarakat untuk melakukan pengalian terhadap khasanah sastra daerah sebagai upaya penyelamatan terhadap cerita-cerita rakyat dari ancaman kepunahan sebagai dampak dari berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini.




 DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Yunus dkk. 1990. Kajian Analisis Hikayat Budistihara, Jakarta: Dapdikbud.
Atmiawati. 2010. Nilai-nilai Kehidupan dalam Cerita Rakyat Tolaki. Skripsi.   Kendari:  FKIP Unhalu
 Dananjaja, James. 1994. Folklor Indonesia (Ilmu gossip, dongeng, dan lain-lain)
                               Jakarta: PT Temprint         
Luthfi Malik, Muhammad. 1997. Islam Dalam Budaya Muna. Ujung Pandang: PT    Umitoha Ukhuwa Grafika.
Sikki, Muhammad, dkk. 1986. Stuktur Sastra Lisan Toraja. Jakarta: Depdikbud
Sumardjo, Yakob. 1998. Apresiasi Kesusastraan, Jakarta: PT Gramedia.
Wahid, Sugin. 2005. Kapita Selekta Kritik Sastra, Makassar : PBSID UNM
Welek & Waren. 1995. Teori Ksesusastraan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Zahafudin, La. 1996. Kamboto sebagai Salah Satu Bentuk Puisi Lama dalam Masyarakat Siompu. Skripsi, Kendari : Unhalu.
Zulfahnur, dkk. 2006/2007. Teori sastra. Jakarta: Depdikbud.







  




LAMPIRAN

Tula-tulano Saidi Rabba (terjemahan )

Suatu waktu, ada utusan dua orang syekh dari Arab untuk mengenalkan ajaranIslam Di Muna. Nama syekh itu adalah Saidi Rabba dan satu lagi di Buton disebut sebagai Bhatua Poaro. Disebut begitu karena sebelum berangkat dari tanah Arab, syekh tersebut melalui alam batin. Nama yang sebenarnya adalah Abdul Wahid.
Ketika kedua syekh tersebut akan berangkat, berundinglah mereka terlebih dahulu, karena mereka akan melalui jalur yang berbeda. Mereka pun menyepakati akan bertemu pada sembilam bulan Sembilan haridi suatu tempat di pulau Buton. Pada saat itu, bertanyalah Saidi Rabba, “Bagaimanakah kita saling mengenali nantinya?” Saat kita akan bertemu nantinya, saat kamu akan mengendong saya, saya akan kencingi mukamu, dan ketika kamu bertanya,”Kaukah itu saudaraku? Bila aku mengangkat keningku, berarti itulah aku. 
Setelah keduanya memutuskan itu, masing-masing pun berangkat. Saidi Rabba berangkat dengan mengunakan sepotong kain, sedangkan Abdul Wahid berangkat dengan cara meninggal dunia. 
Dalam perjalanan tersebut sampailah Saidi Rabba di suatu tempat di Muna. Dekat pantai Laghontoghe (sekarang Walengkabhola) yang lebih dikenal dengann nama Kampung Lama. Di tempat inilah pertama kali Saidi Rabba mengenalkan dan mengajarkan Islam di Muna. Beliau mengislamkan warga, mengajari mereka sholat, dan lain sebagainya tentang Islam. Bersama warga kemudian membangun mesjid untuk tempat sholat berjamaah.
Pada saat itu, Wuna (kerajaan Muna) dipimpin oleh seorang raja yang disebut Sangia Latugho atau Omputo Sangia Latugho. Suatu hari, Sangia Latugho ini mengirim empat orang utusannya ke Langhontoghe untuk mengundang Saidi Rabba berkunjung ke Kamali (nama lain kerajaan Muna). Pada saat itu Saidi Rabba tidak memenuhi undangan Sangia Latugho tersebut, karena dia berpikir bahwa menurut kabar berita Sangia Latugho ini mempunyai binatang piaraan yang diharamkan dalam Islam yaitu babi. 
Berkatalah Saidi Rabba pada utusan Sangia itu, “saya akan berkunjung ke Kamali, terkecuali Sangia melepaskan binatang piaraannya.” Baliklah utusan dan melaporkan semua kepada Sangia. Mendengar itu, maka dilepaskannya binatang piaraanya itu, hanya menyisahkan empat ekor binatang saja. Dua ekor jantan dan dua ekor betina. Dua ekor jantan bernama Apogelo dan Apulangkati, sedangkan yang betina bernama Wa Kambadidi dan Wa Kambawite. Nama binatang itulah kemudian menjadi mantra saat membuka lahan (Kaago-ago) dalam masyarakat Muna.
Setelah melepas  binatang peliharaanya itu, maka Sangia mengirim lagi utusannya dan berpesan, “jika Saidi Rabba menanyakan, katakanlah bahwa Saidi Rabba sudah melepas binatang peliharaannya”. Sekalipun begitu, Saidi Rabba tidak serta-merta berkunjung ke Kamali, tetapi terlebih dahulu diberinya air dan tanah pada utusan itu untuk diserahkan kepada Sangia Latugho untuk mensucikan Kamali. 
Setelah Kamali disucikan dengan air dan tanah tersebut, datanglah utusan untuk menjemput Saidi Rabba, dan bersedialah Saidi Rabba berkunjung ke Kamali. Sesampai di Kamali Saidi Rabba seakan-akan menyaksikan bahwa istri dari Sangia Latugho sudah tua dan beruban. Mereka tidak dikaruniai keturunan. Gembiralah Sangia Latugho ini saat saidi Rabba tiba di Kamali. Berhajatlah dia pada Saidi Rabba untuk didoakan agar memperoleh keturuan seperti kebanyakan orang.
Saidi Rabba seakan-akan melihat istri Sangia Latugho ini, seakan-akan menoleh mukanya sambil tersenyum. Menyaksikan hal itu, mendesahlah Sangia Latugho ini, sambil berkata, “Saya piker tidak ada lagi yang dikurangkan oleh Saidi Rabba, ternyata masih ada juga”.
Mendengar itu, merasa malulah Saidi Rabba pada Sangia Latugho ini. Berkatalah Saidi Rabba, “Jika seperti itu Sangia  berikanlah saya air untuk saya mandikan istrimu”. Diambilkan air dan diberi mantra oleh Saidi Rabba, kemudian dimandikan pada istri Sangia Latugho ini. Berubahlah istri Sangia Latugho ini seperti gadis perawan. Selanjutnya bersiaplah Saidi Rabba untuk mendoakan mereka. Sebelum itu, Saidi Rabba berkata,”sekarang lihatlah saya Sangia, tataplah mataku pastikan di bagian mana air mataku menetes. Jika menetes sebelah kanan, maka Sangia nantinya mempunyai anak laki-laki. Jika menetes pada sebelah kiri, berarti akan dikaruniai anak perempuan. Jika keduanya maka Sangia akan dikaruniai anak laki-laki dan perempuan”.
Pada saat Saidi Rabba bertafakur membaca doa. Sangia menata dan air mata Saidi Rabba menetes dua kali di mata sebelah kanannya berurutan. Setelah selesai, diungkaplah Sangia apa yang dilihatnya pada mata Saidi Rabba ketika dia bertafakur. 
Berkatalah Saidi Rabba,”Jadi seperti yang saya katakana sebelumnya, Insya Allah Sangia akan dikaruniai dua orang anak  laki-laki secara berurutan. Untuk itu sayalah yang akan memberi nama kedua anak tersebut. Yang kakak akan saya beri nama Hasani dan yang adik akan saya beri nama Husaini. Maka karena itu, menjadi mudahlah Saidi Rabba mengajarkan Islam di Muna. Di bangunlah juga mesjid di Muna untuk tempat sholat berjamaah.
Setelah semua itu, tibalah waktunya Saidi Rabba seperti yang diputuskan bersama Abdul Wahid dahulu untuk bertemu pada sembilan bulan sembilan hari kemudian di salah satu tempat di Buton. Berangkatlah Saidi Rabba ke Buton. Sekalipun demikian, Saidi Rabba berpesan kepada warga  bahwa yang diajarkannya tentang Islam bukanlah keseluruhan tentang Islam, tetapi akan ada seorang Syekh yang akan mengajarka lebih jauh tentang isi ajaran Islam sesungguhnya. Syekh yang dimaksud itu adalah Abdul Wahid.

Tula-Tula Saidi Rabba

Dhamani wawono, nandomo katudu maighono we witeno Arabu dorudua Sye’ mbali fofogurughono kaIslamu manano ne witeno Wuna ini. Neando Sye’ anagha, semie neano Saidi Rabba, semieno neano ne Wolio inia dokonae Bhatua Poaro. Kandiho dokonae Bhatua Poaro rampano noere maitua noangka bhatini. Dhadi neano sakotughuhano we wite Arabu dokonae Abudhu Wahidhi.
Dameremo kaawu, Sye’ maitu dopohbotumo deki. Aitu welo kapobhotundo maitua, konae tana siwa wula siwa gholeo dapoghawa we witeno Wolio. Dhadi nofenamu Sye’ Saidi Rabbu ini, bhahi dahae sadapotandaigho mada kaawu. “Aitu sadapoghawa kaawu, aekabusaki ghulamu. So omena kaawu; ihintumo ini sabhangka? Amoghundangko kireku, maanano inodimu itu.
Pada kaawu dopobhotu nagha doeremu. Saidi Rabba noere nosawi ne kapusuli, ane Abdu Wahidi nomate. Dhadi welokaereno ngha Saidi Rabba no pee we napa Walengkabhola, we napa Laghontoghe, we lokamotugha liwu ngkodau. Nenagha jalano bha-bhano kaIslamu we Wuna inia. Nofoguruandamu kaIslamu miehino Aghontoghe ini, nofoguruanda alahano eondo bhe alahano wakutu. Dopokapo-kapoimu dua maanano mieno liwua mbali defoere masigi so kasambaheaha liwu.
Dhadi wakutu anagha we Wuna noparintaghie nikonando Sangia Latugho, Omputo Sangia Latugho. Dhadi no dhalamu ka Islmau ne Aghontoghe ini, tee Wuna minaho damandandehane. Pada kaawu angha Sangia Latugho maitua netudhumu mie do popa dakumala te aghontoghe so dabhasi Saidi Rabba no kalagho we Kamali. Wakutu anagha Saidi Rabba minahi namondoghie kaowilino Sangia Latugho, masahano welo bhoritano inia Sangia Latugho maitu nepiara owewi. Ane we loIsalamu owewi maitu no haramu. Saidi Rabba nepakatumo kaowilino dua ne miehi katuduno Sangia maitua. Welo kaowilino maitu Saidi Rabba nesalo ne Omputo Sangia namofuleimo kakadi kafembulano. Dosulimo miehi katudu maitu dopansuru ghiemo kawilino Saidi Rabba nagha ne Omputo Sangia. Nofitingke angha Sangia maitu nofofuleimo wewi kafembulano, taka nerunsa faato ghulu ra ghulu moghane raghulu robhine. Nenaghamu dua kanandohanomo bhatatano delengka galu bhughou.
Pada kaawu angha Saidi Rabba nepakatumo dua oe bhe wite so dakumadiugho liwuno Kamali maitu. Padakaawu dokadiu liwu maitu Saidi Rabba nohundamu no kala we Kamali. Norato kaawu we Kamili Saidi Rabba tapedhano noghondo mieno lambuno Sangaia maitu no kamokulamo bhe no ghuamo. No ko hadhatimo Sangia ne Saidi Rabba maitu natumolaane ke kakawasa no koanaghigho mieno lambuno maitu. 
Saidi Rabba so nowura mieno lambu Sangia maitu nokambio bhe nofogampi ghulano. Pada anagha sangia maitu nopoghaumo. Soono mina bhe kakaeno Saidi Rabba maitu gara nando dua. Nofetingke angha Saidi Rabba no ambano. Pada anagha nobisaramo dua Saidi Rabba maitu nefelamo oe, namerebuae so dakumadiugho mieno lambu Sangia maitu. Pada nekaiu oe anagaha mieno lambuno Sangia maitu nembali motora peda kalambu kabua-bua.
Pada angha sebasamo dhoa, “ Aitu ghondo-ghondo kanau Sangia. Tontokanau bhahi nehamai katuruhano luuku. Bharangka natumuru ne soanaku se turu maka so anamu madakaewu omoghane. Bharangka natumuru ne kemaku , se turu orobhine so anamu.  Bharangka natumuru korawetahae, manano okoanagho kalopo moghane bhe robhine. Dhadi wakutu notafakuru maitu nebasa dhoa Saidi Rabba notontoe Sangia. No poangka noturu luno matano Saidi Rabba ne suanano. Aitu padakawu nebhasa dho maitu nofenamo Saidi Rabba bhahi dahae pofurahano Sangia maitu. Nopoghaumo Sangia ingke ne soanano katuruhano luno rapaku nopoangka. 
Nopghaumo Saidi Rabba. Aitu pedamo nepoghaaughoku anini, mada kaawu so anamu omoghane daru dua. Dhadi akumonandemu neahindo. Oisa so neano Hasani ane oai so neano Husaini.
Dhadi nofuguruandamu dhua kaIslamu we Wuna  Saidi Rabba. Nofoguruanda ngji, sambahea bhe bhaari-bharie jalano Islamu. Defoeremu dua masiagi we Wuna so kasambaheaha liwu. Norato kawuu tantunon wakutunoa kapoghauhando bhe Abudhu wahidia inia, tana segholeo Saidi Rabba inia noeremo te Wolio so kapoghawahano bhe Abudhu wahidi ini. 
Maomo dua anagha, nerunsa poghau Saidi Rabba inia, kunae nefogurughondo maitu ini kulino kaawu kaIslamu. Nando madakawuu mie so rumatono so moghuruanda Islamu bhari-bharie neano Sye’Abhudu Wahidi. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar